Apa yang ada di dalam pikiran seseorang yang telah datang dan pergi mengikuti hawa nafsu yang terus pasang dan surut. Indah dan sungguh mengerikan. Janji tidak untuk kembali, tetapi lagi datang untuk memastikan aku tidak akan kemana. Sungguh egois. Bodoh aku tetap menatapnya yang pasang surut. Aku biarkan. Setiap kali ia datang, ia akan pergi dengan tanda-tanda tulisan atau perilaku yang aku yakin hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya benar untuk pergi. Tidak, kamu tidak bisa menolakku, lelaki lemah. Kamu akan tetap datang lagi. Aku tidak meminta kamu untuk memegang janjimu untuk tidak akan kembali. Aku ingin kamu tahu diri, dan lagi, tahu malu. Aku tidak perduli apa yang kamu lakukan terhadapku, tetapi aku sendiri, aku tidak memiliki siapa-siapa, jadi dosa kita beda. Jangan anggap aku murahan karena bisa membiarkan kamu datang dan pergi. Setiap kamu melakukannya, aku hanya bisa menatap dalam diam, sambil berpikir, kemana otak lelaki ini? Bodoh. Aku menganggapmu menyedihkan. Kenapa kamu, suka aku? Lepas dia. Kamu akan mengatakan "tidak semudah itu!", padahal nyatanya, untuk meninggalkan dia pergi, lebih mudah daripada kamu yang datang dan lagi pergi dari sebelahku. kamu menurunkan derajatmu jauh jauh kebawah derajatku yang sudah cukup di bawah di mata manusia sekitarku. Aku tidak perduli. Mau apa kamu sekarang? Aku sudah berhenti mencoba untuk mengganggumu. Aku tidak datang. Kamu yang tiba-tiba datang dan meneriakkan isi perutmu. Gila ya kamu? Mau apa sebenarnya? Ayo buat keputusan, kamu akan menyakitiku cepat atau lambat, sudah kupercepat, ternyata kamu tambah lagi hukumannya. Kamu pintar, sayang. Pintar bermain dengan api, belum lagi terbakar. Apa? Kamu kira aku tidak tahu dia akan datang? Lalu apa yang kamu lakukan? Harusnya kamu konsentrasi, bagaimana bertemu muka dengan perempuan itu nanti, bukannya bermain api dengan cinta lagi. Bodoh kalau kamu berpikir aku melakukan segalanya dengan otak, aku tidak berotak! Segalanya menari dengan hati, maka jangan ganggu tarianku ini, bila mau, menarilah bersamaku, dan jangan coba-coba memakai baju beban rasa bersalah sebagai kostum menarimu lain kali kita menari. Sungguh mengganggu.