Sunday, 22 November 2009

Rumah Rahim

Tuhan, mata ini terbuka dengan lebar, saat melihat seorang teman baru saja kehilangan rumah rahimnya. Air mata ini lagi-lagi mengalir dengan derasnya, ketakutan akan terjadinya hal yang sama. Temanku begitu kuat, sambil berkata, "kita akan berjumpa sebentar lagi". Aku seharusnya senang, rumah rahim tidak lagi merasakan kesakitan, rumah rahim tidak lagi merasa... Dia bebas disana...

Tuhan, aku belum berbakti kepada rumah rahimku, dan ayahku, apa-apaan aku ini?

Aku ingin ikhlas bila suatu hari nanti mereka pergi ketempat yang jauh disana, bertemu kedua orangtua mereka lagi. Ajari aku ikhlas tuhan. Temanku nakal, dia bisa ikhlas. Aku mau juga merasakan itu, Tuhan...

Monday, 16 November 2009

Sorry

Ketika mulut jalang ini tidak dapat menyimpan kata-kata indah dan ingatannya dalam diri sendiri. Semuanya berantakan dan hancur tanpa ada lagi yang dapat menjadi pemanis di dalam otak, semuanya, berantakan. Iya, berantakan begitu saja.

Tidak ada lagi kawan untuk berbagi, tidak ada lagi memori untuk membuatmu tetap tinggal. Penyesalan bukanlah kosa kata yang ada di dalam hati, maaf tetapi penyesalan bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.

Mempebaiki masa depan, merubah dan mengganti perangai buruk sang mulut dan lidah, mungkin hanya itu yang dapat aku lakukan.

Maaf, yang sekarang kamu rasakan hanyalah ketakutan akan hasil perbuatan mulut ini, akankah dia tahu, akankah semuanya runyam, ya... Aku tidak tahu, maaf tetapi dari sisi jahatku ia berkata, kamu yang menyebabkan semua keberantakan ini.

Aku selalu menjadi orang jahat yang dengan JAHAT DAN JUJUR memperlihatkan efek terburuk dari apa yang kamu lakukan. 

Tuesday, 27 October 2009

Bunga Manis yang Gila

Kamu begitu manis, menggoda, susah untuk ditolak. Aku sudah tahu caranya untuk tidak mencium bau manismu, dengan menjauhimu. Tapi lagi-lagi aku terjebak di tamanmu. Sialan, tidak beruntung. Lagi-lagi aku mencium baumu. Manis. Menggoda. Menggelikan aku suka bau manis bunga yang sudah memiliki lebahnya sendiri. Murahan. Bunga masih banyak, cantik, kenapa masih saja mencintai bau bunga milik sang ratu lebah? Bodoh. Tapi itu dia, disana indahnya, godaan, ingin menaklukkan. Kamu kuat juga bunga. Aku bukan lebah lainnya, sayang. Aku hanya seorang teman, teman yang kamu inginkan juga, iya kan, bunga manis? Sekali-sekali, jangan ikuti aturan, ikuti apa yang mahkota dan angin katakan. Ingin aku, datanglah kepadaku. Tapi aku bukan teman bodoh tanpa hati yang tidak memikirkan sang ratu. Jadi, semuanya terserah kamu. Ah, masa bodoh dengan apa yang kamu pikirkan, kamu sudah cukup gila untuk dulu dekat denganku, dan sekarang datang lagi meminta lebih. Bunga manis yang gila.

Pasang Surut

Apa yang ada di dalam pikiran seseorang yang telah datang dan pergi mengikuti hawa nafsu yang terus pasang dan surut. Indah dan sungguh mengerikan. Janji tidak untuk kembali, tetapi lagi datang untuk memastikan aku tidak akan kemana. Sungguh egois. Bodoh aku tetap menatapnya yang pasang surut. Aku biarkan. Setiap kali ia datang, ia akan pergi dengan tanda-tanda tulisan atau perilaku yang aku yakin hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya benar untuk pergi. Tidak, kamu tidak bisa menolakku, lelaki lemah. Kamu akan tetap datang lagi. Aku tidak meminta kamu untuk memegang janjimu untuk tidak akan kembali. Aku ingin kamu tahu diri, dan lagi, tahu malu. Aku tidak perduli apa yang kamu lakukan terhadapku, tetapi aku sendiri, aku tidak memiliki siapa-siapa, jadi dosa kita beda. Jangan anggap aku murahan karena bisa membiarkan kamu datang dan pergi. Setiap kamu melakukannya, aku hanya bisa menatap dalam diam, sambil berpikir, kemana otak lelaki ini? Bodoh. Aku menganggapmu menyedihkan. Kenapa kamu, suka aku? Lepas dia. Kamu akan mengatakan "tidak semudah itu!", padahal nyatanya, untuk meninggalkan dia pergi, lebih mudah daripada kamu yang datang dan lagi pergi dari sebelahku. kamu menurunkan derajatmu jauh jauh kebawah derajatku yang sudah cukup di bawah di mata manusia sekitarku. Aku tidak perduli. Mau apa kamu sekarang? Aku sudah berhenti mencoba untuk mengganggumu. Aku tidak datang. Kamu yang tiba-tiba datang dan meneriakkan isi perutmu. Gila ya kamu? Mau apa sebenarnya? Ayo buat keputusan, kamu akan menyakitiku cepat atau lambat, sudah kupercepat, ternyata kamu tambah lagi hukumannya. Kamu pintar, sayang. Pintar bermain dengan api, belum lagi terbakar. Apa? Kamu kira aku tidak tahu dia akan datang? Lalu apa yang kamu lakukan? Harusnya kamu konsentrasi, bagaimana bertemu muka dengan perempuan itu nanti, bukannya bermain api dengan cinta lagi. Bodoh kalau kamu berpikir aku melakukan segalanya dengan otak, aku tidak berotak! Segalanya menari dengan hati, maka jangan ganggu tarianku ini, bila mau, menarilah bersamaku, dan jangan coba-coba memakai baju beban rasa bersalah sebagai kostum menarimu lain kali kita menari. Sungguh mengganggu.

Saturday, 24 October 2009

Accounts

Just making things right in order, these are my accounts

x

What it is to to be a secret. Not keeping one, not telling one, not curious of one, but to be the one. How does it feel? Does it hurt? Does it keep you away from telling that the secret is you? Does it lasts forever? Does this will ever work?

What it is to be patience? What takes you to be patience? Will you follow the game until you dance abstractly and still be patience? Not to cry, not to scream, not to ask for the game to stop, just... Be patience... Will you?

Sacred night, once in a while, after the bubble came out of the blue. Short after you stop believing in yourself, a moment after you give up.

Hanging Over Dear Deer?

You know, I've decided to be independent, most likely to be single. Until I feel it's right, until I settle down and have no more things to think about, the clean slate. Well, drinks and puffs of spliff took out my secret. The truth. Now I don't know why I let my self trapped in the absurd one. I heavenly am happy. I am. But this, is not right, the wrong kind of happiness. Guilty pleasure, the best one.