Sunday, 5 June 2011

Raba Rabi

Padang pedang tancap hunus tanah teriak meriang yang gembur tidak lagi tahan. Kecup-kecup kecil dari sarkasme para pendatang memberi kesan tak lagi senang. Apa-apa-apa ingin tuntut apa lagi alam baik ini? Diberi udara dia minta terbang luar angkasa. Diberi air dia minta yang kadaluarsa sumber pemabukan. Diberi lantunan suara indah dia inginkan terasalkan kupu malam desah resah dosa binasa. Tararam, tararam, tararam. Pejalan kaki pengikut intuisi semesta hanya bisa bersenandung dansa tanpa perduli, ada saja para penggila ini. Merasa dirinya suci bagaikan yang baru saja meluruh? Mimpi. Balik lagi pada sang gembur, ia melalap diri sendiri menurunkan derajatnya, biarkan laut kaca yang berkuasa, biar semua biru, semua jadi duyung, berubahlah kalian, kalukan teori evolusi sekali lagi, biarkan aku dikira percampuran ikan nirwana. Eh. Apapun itu namanya.
Oh. Ada satu kisah tentang sang Malaikat. Malaikat penjaga rasa, dia sebentar lagi akan berhenti bertugas di hutan belantara nadi. Dia akan berhenti mendengar detak para pencinta, begitupun dengan detaknya sendiri. pernak-pernik di atas kepalanya mulai menjerat rambut dan benang merah mudanya, sebentar lagi akan putus dan mengambil serta rontok rambutnya, hilang cantik raganya, dengan ikhlasnya, bercahayalah cantik batinnya.

0 comments:

Post a Comment