Kali ini pintunya sudah ditutup. Sudah merata dan meraja. Kamu dan egoismu tentang kerinduan berlebih sudah terlalu melampaui batas. Silahkan menggila dan merajam dirimu dengan resah tanpa ada penawarnya. Saya akan melanglang buana tanpa ada beban tentang masa depan, malam ini kamu benar-benar melepasnya. Kecewa saya tentang sepersejuta abad kamu berdiam aksi mencoba untuk memaafkan diri sendiri, setelah celah diberi, kembaliku tercaci bertubi dengan kata "...". Saya punya batas akan memaafkan, tidak, tetapi kamu sudah membuat batasan baru untuk dirimu sendiri.
Rindu resah juga saya rasa, tetapi bukan begitu cara ekspresikannya. Meresahkan dan merisihkan, sedih rasanya ketika jam lalu kita membicarakan tentang kemungkinan akan bersama, kandas secepat cahaya. Anehnya, setiap ada wacana atau kata, pasti berujung urat dan diam tanpa lanjut kata. Tai kucing. Ya begitulah kira-kira.
Kamu pas untuk dibawa merajalela di atas angin dunia, tetapi kamu membuat parasut angkara, sungguh tolol. Iya saya hapus kamu dari dunia maya, mungkin suatu hari kita akan bertemu di dunia nyata, mungkin lagi akan hanya menjadi wacana. Ok terserah apa kata Bapak Waktu, biarkan dia melancarkan aksinya, saya tidak perduli.
Silahkan mengumbar cinta, silahkan bersama seseorang lainnya. Saya akan tetap berdiri disini, berjalan kaki, mungkin lari, sendiri. Puas? Iya. Saya tidak ada lagi gambaran tentang hidup bersama seseorang, bahkan bersama Anda. Silahkan meracuni diri dengan resah.
Mengesalkan...

0 comments:
Post a Comment