Psychedelia diatas awan bulu angsa. Terpandang dari atas atmosfer, rajutan ranting yang menyebar di seluruh lautan kertas hijau dan kerikil coklat. Mengikuti pergantian warna terang ke gelap, yang mereka lakukan terlihat semakin laknat. Semakin gelap semakin laknat. Semakin banyak pergantian terang ke gelap, semakin banyak yang laknat. Rusak.
Terdapat beberapa cahaya yang tersebar di lima kertas hijau, merata. Cantiknya dan buruknya merata. Yang kuning jauh diatasku selalu menjadi pembicaraan hangat di hamparan pasir. Diagungkan dan didewakan. Di daerah kertas abu biru, kerikil pembunuh menjadi salah satu kegemaran dari masa ke masa. Oh, tidak ada ranting di bagian bawah, kertas putih berdiri sendiri mencari kawan dengan mulai menyebarkan secarik demi secarik putihnya ke kertas lain, sungguh kesepian. Selagi semuanya terjadi, saya sedang sibuk meluruskan benang merah muda yang selama ini melilit erat di pergelangan tangan. Sibuk.
Lalu nada dari kertas birupun melantun mengikuti takaran terang, terlihat banyak bercak warna-warni di kedalaman kertas tertentu, sungguh menjadi hiburan tersendiri saat melihat warna abu-abu menjadikan mereka tiada.
Tunggu, ada helai rambut yang datang mencari pertolongan. Helai warna merah, yang semakin dekat menjadi semakin panjang. Meminta untuk tidak lagi dikonsumsi oleh para penari di jembatan jerami. Berharap rantainya tidak diganggu gugat. Apa daya, saya sudah tidak lagi ada di dalam satu dimensi dengan mereka. Oh. Saya masih sibuk dengan benang merah muda. Sebentar.
Lain kali saja saya melanjutkan betapa asiknya hamparan kertas-kertas ini, tanpa mereka tahu bahwa mereka sebenarnya dikelilingi oleh kertas hitam yang tidak terlihat ujungnya.

0 comments:
Post a Comment